obamaIni adalah teks lengkap pidato pelantikan Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama, Selasa 20 Januari waktu AS, di Capitol Hill, Washington DC dari siaran pers Kedutaan Besar AS di Jakarta, Rabu :

Rekan-rekan sebangsa dan setanah air:

Saya berdiri di sini hari ini terenyak oleh tugas di depan kita, berterima
kasih atas kepercayaan yang Anda berikan, dan teringat akan pengorbanan
oleh leluhur kita. Saya berterima kasih kepada Presiden Bush atas jasanya
pada bangsa kita, dan juga atas kemurahan hati dan kerjasama yang
ditunjukkannya pada masa transisi ini.

Sudah 44 warga Amerika yang diambil sumpahnya sebagai presiden. Kata-kata
dalam sumpah jabatan itu telah diucapkan dimasa kemakmuran dan dimasa
damai. Namun, ada kalanya sumpah jabatan kepresidenan itu diambil di
tengah-tengah situasi gawat dan badai yang berkecamuk. Pada saat-saat
demikian, Amerika terus melaksanakan tugasnya bukan hanya karena
ketrampilan atau visi mereka yang memegang jabatan tinggi, tetapi karena
kita rakyat Amerika tetap setia pada cita-cita leluhur kita dan setia pada
dokumen-dokumen yang dirumuskan oleh para pendiri negara kita.

Demikianlah adanya, dan memang selalu demikianlah yang harus dilakukan
oleh generasi orang Amerika yang sekarang ini.

Memang sudah dipahami bahwa kita sedang berada di tengah krisis. Bangsa
kita kini sedang terlibat perang, melawan jaringan kekerasan dan kebencian
yang jauh jangkauannya. Ekonomi kita sangat lemah, akibat ketamakan dan
tindakan tidak bertanggung jawab oleh sebagian pihak, tetapi juga karena
kegagalan kita secara kolektif untuk membuat pilihan-pilihan sulit, dan
kegagalan kita mempersiapkan bangsa bagi abad baru. Banyak rumah yang
disita, lapangan kerja menurun drastis, bisnis gulung tikar. Asuransi
kesehatan kita terlalu mahal, murid-murid sekolah kita banyak yang gagal,
dan setiap hari terlihat bukti bahwa cara-cara kita menggunakan energi
justru memperkuat musuh-musuh kita dan mengancam planet kita.

Semua itu merupakan indikator krisis, yang didasarkan pada data dan
statistik. Yang kurang bisa diukur tetapi tidak kurang pentingnya adalah
melemahnya keyakinan di seluruh pelosok Amerika – kekhawatiran
terus-menerus bahwa kemerosotan Amerika tak terelakkan lagi, dan bahwa
generasi berikutnya harus mengurangi harapannya.

Hari ini saya katakan kepada kalian bahwa tantangan-tantangan yang kita
hadapi adalah nyata. Tantangan ini serius dan banyak. Tidak akan mudah
diatasi dan tidak bisa diatasi dalam jangka pendek. Tetapi ketahuilah ini,
Amerika, semua tantangan ini akan kita hadapi.

Pada hari ini, kita berkumpul karena kita lebih memilih harapan daripada
ketakutan, kesatuan tujuan daripada konflik dan pertentangan.

Pada hari ini, kita berkumpul untuk menyatakan berakhirnya keluhan-keluhan
kecil dan janji-janji palsu, saling-tuduh dan berbagai dogma lusuh yang
sudah terlalu lama mencekik politik kita.

Negara kita masih muda, dengan meminjam kata-kata dalam Kitab Suci,
saatnya sudah tiba kita menepiskan sifat ke kanak-kanakan. Saatnya sudah
tiba untuk menandaskan lagi semangat kita yang tegar, memilih jalan
sejarah yang lebih baik, melanjutkan pemberian berharga, gagasan mulia
yang diteruskan dari generasi ke generasi: yaitu janji yang diberikan
Tuhan bahwa semua kita setara, kita semua bebas, dan semua layak
memperoleh kesempatan untuk mengejar kebahagiaan sepenuhnya.

Dalam menandaskan kebesaran bangsa kita, kita memahami bahwa kebesaran tak
pernah diberikan begitu saja. Mencapai kebesaran harus dengan kerja-keras.
Perjalanan yang kita tempuh tak pernah mengambil jalan pintas. Perjalanan
kita bukan bagi mereka yang tidak-tabah, bukan bagi mereka yang suka
bermalas-malas daripada bekerja, atau bagi yang hanya mengejar kekayaan
dan menjadi terkenal. Perjalanan kita adalah bagi mereka yang berani
mengambil risiko, mereka yang melakukan hal-hal baru dan membuat
barang-barang baru. Sebagian mereka menjadi terkenal, tetapi acap kali
laki-laki dan perempuan tak dikenal dalam pekerjaan mereka, yang telah
mengusung kita di atas jalan berbatu-batu menuju kemakmuran dan kebebasan.

Demi kita, mereka mengemas harta milik mereka yang tak seberapa dan
menyeberangi samudera untuk mencari kehidupan baru.

Demi kita, mereka banting-tulang dengan upah minim dan menetap di Pantai
Barat, menahankan pukulan cambuk dan mencangkul tanah yang keras.

Demi kita, mereka bertempur dan mati, di tempat-tempat seperti Concord dan
Gettysburg, Normandy dan Khe San.

Lelaki dan perempuan ini terus menerus berjuang dan berkorban dan bekerja
hingga kulit tangan mereka mengelupas, agar kita bisa mengecap kehidupan
yang lebih baik. Mereka melihat Amerika lebih besar dari jumlah ambisi
kita secara perorangan, lebih besar daripada perbedaan status keluarga,
atau kekayaan ataupun partai atau kelompok.

Perjalanan inilah yang kita teruskan hari ini. Kita masih merupakan negara
paling makmur dan paling berpengaruh di Bumi. Para pekerja kita tidak
kurang produktifnya dibandingkan dengan waktu ketika krisis ini dimulai.
Otak kita masih seinventif seperti pada awal krisis ini, barang dan jasa
kita masih diperlukan seperti pada minggu lalu atau bulan lalu, atau tahun
lalu. Kapasitas kita tetap tak berkurang. Tetapi masa kita untuk berdiam
diri, melindungi kepentingan sempit dan menunda keputusan-keputusan yang
tak menyenangkan, sudah harus berlalu. Mulai hari ini, kita harus bangkit
sendiri, membersihkan debu yang menempel, dan mulai lagi bekerja
memperbaharui Amerika.

Karena kemana saja kita melihat, ada yang harus kita lakukan. Keadaan
ekonomi mengharuskan tindakan yang berani dan segera, dan kita akan
bertindak bukan hanya untuk menciptakan lapangan kerja baru, tetapi untuk
meletakkan dasar bagi pertumbuhan. Kita akan membangun jalan dan jembatan,
jaringan listrik dan jaringan digital yang menyuburkan perdagangan dan
mengikat kita bersama. Kita akan memulihkan sains ke tempat yang
selayaknya, dan menggunakan kehebatan teknologi untuk meningkatkan mutu
perawatan kesehatan dan menurunkan biayanya. Kita akan memanfaatkan tenaga
matahari, tenaga angin dan lainnya untuk menjalankan mobil-mobil dan
pabrik-pabrik kita. Dan kita akan mengubah sekolah dan perguruan tinggi
dan universitas untuk memenuhi tuntutan era baru. Semua ini bisa kita
lakukan. Dan semua ini akan kita lakukan.

Tentu, ada orang yang meragukan skala ambisi kita – dengan mengatakan
sistem ekonomi kita tidak bisa mentolerir terlalu banyak rencana besar.
Daya ingat mereka tidak cukup lama. Mereka telah melupakan apa yang
dilakukan negara ini, apa yang bisa dicapai oleh laki-laki dan perempuan
yang hidup bebas, apabila imajinasi digabung demi tujuan bersama, dan
kebutuhan digabung dengan ketabahan.

Yang tidak dipahami oleh mereka yang sinis adalah tanah tempat mereka
berpijak telah bergeser, bahwa argumen basi dalam politik yang telah
begitu lama menyita waktu kita – tidak lagi berlaku. Pertanyaan yang kita
ajukan sekarang bukan apakah pemerintah kita terlalu besar atau terlalu
kecil, tetapi apakah pemerintah kita bisa berfungsi, apakah pemerintah
bisa menolong para keluarga mencari pekerjaan dengan upah yang layak,
asuransi kesehatan yang terjangkau, dan pensiun yang berarti. Apabila
jawabannya – ya, kita berniat untuk terus bergerak maju. Apabila
jawabannya tidak, programnya akan dihentikan. Dan mereka yang mengatur
uang rakyat akan dimintai pertanggung-jawabannya – supaya mengeluarkan
uang secara bijaksana, mengubah kebiasaan buruk, dan melakukan bisnis kita
dengan jujur – karena hanya dengan demikian kita bisa memulihkan
kepercayaan penting antara rakyat dan pemerintah.

Kita juga tidak mempertanyakan apakah kekuatan pasar bebas itu baik atau
buruk. Kekuatan pasar bisa membina kekayaan dan memperluas kebebasan kita.
Tetapi krisis ini telah mengingatkan kita bahwa tanpa pengawasan yang
ketat, kekuatan pasar bebas itu bisa terlepas dari kontrol, dan suatu
bangsa tidak bisa makmur untuk waktu lama apabila hanya mementingkan orang
kaya. Keberhasilan ekonomi kita tidak hanya tergantung pada besarnya
Produk Domestik Bruto, tapi seberapa jauh meluasnya kemakmuran itu, pada
kemampuan kita memberikan kesempatan kepada tiap orang yang mau bekerja,
dan bukan karena belas kasihan karena itulah jalan yang paling pasti guna
mencapai kemakmuran bersama.

Mengenai pertahanan kita bersama, kita menolak dan menganggap palsu
pilihan antara keselamatan dan idaman atau cita-cita kita. Para Pendiri
Negara ini dihadapkan pada bahaya yang tak terbayangkan, menyusun sebuah
piagam untuk menjamin supremasi hukum dan hak setiap orang, sebuah piagam
yang diperkuat oleh perjuangan generasi demi generasi. Semua cita-cita ini
masih menerangi dunia, dan kita tidak akan meninggalkannya demi mencapai
penyelesaian yang cepat. Karena itu, bagi semua orang dan pemerintahan
yang menyaksikan pelantikan hari ini, mulai dari kota-kota yang termegah
sampai ke desa kecil di mana ayah saya dilahirkan, ketahuilah bahwa
Amerika adalah sahabat setia negara dan sahabat setiap lelaki, setiap
perempuan, dan setiap anak yang menghendaki masa depan yang damai dan
bermartabat, dan bahwa kita siap untuk memimpin lagi.

Ingatlah bahwa generasi-generasi sebelumnya menundukkan fasisme dan
komunisme bukan hanya dengan misil dan tank, tetapi dengan aliansi yang
kokoh dan keyakinan besar. Mereka memahami bahwa kekuatan saja tidak bisa
melindungi kita, dan bahwa kekuatan itu tidak memberi kita hak berbuat
sekehendak hati kita. Sebaliknya mereka tahu bahwa kekuatan kita tumbuh
melalui penggunaan yang bijaksana, keamanan kita berasal dari adilnya
tujuan kita, kekuatan contoh yang kita berikan, dan kerendahan hati serta
kesanggupan menahan diri.

Kita adalah penjaga warisan ini. Dibimbing oleh prinsip-prinsip ini,
sekali lagi kita bisa menghadapi ancaman-ancaman baru itu yang menuntut
upaya lebih besar, bahkan kerja-sama dan pemahaman lebih besar
antar-negara. Kita akan mulai secara bertanggung jawab meninggalkan Irak
kepada bangsa Irak, dan menempa perdamaian di Afghanistan. Bersama
teman-teman lama dan bekas saingan kita, Amerika akan bekerja tanpa lelah
untuk mengurangi ancaman nuklir, dan mengurangi bahaya pemanasan bumi.
Kita tidak akan minta maaf atas cara kehidupan Amerika, tidak akan goyah
dalam mempertahankannya, dan bagi mereka yang hendak mendorong tujuan
mereka dengan terror dan membantai orang-orang tak bersalah, kami katakan
kepada mereka, semangat kita lebih kuat dan tidak terpatahkan, kalian
tidak akan unggul dari kami, dan kalian akan kami kalahkan.

Kami sadar bahwa warisan bangsa yang beraneka warna adalah suatu kekuatan,
dan bukannya sebuah kelemahan. Bangsa kita terdiri dari orang Kristen dan
Islam, Yahudi dan Hindu, dan bahkan orang-orang yang tidak percaya pada
Tuhan. Kita telah dibentuk oleh campuran berbagai bahasa dan kebudayaan,
yang berasal dari segala pelosok dunia. Dan karena kita telah merasakan
pahitnya perang saudara dan segregasi rasial, dan keluar dari masa
kegelapan menjadi sebuah bangsa yang lebih kuat dan lebih bersatu, kita
yakin bahwa pada suatu hari nanti semua rasa kebencian akan hilang, bahwa
semua garis-garis pembatas antar suku bangsa akan luluh, dan bahwa dunia
ini akan menjadi semakin kecil. Kerendahan hati kita akan tampak dengan
sendirinya, dan Amerika harus memainkan perannya dalam menyongsong era
perdamaian yang baru.

Bagi dunia Muslim, kami akan mencari cara baru ke depan berdasarkan pada
kepentingan bersama dan saling menghormati. Bagi para pemimpin dunia yang
berusaha menanam bibit konflik, atau menyalahkan dunia Barat atas
kesulitan-kesulitan yang dialami masyarakatnya, ketahuilah bahwa rakyat
Anda akan menilai Anda pada apa yang Anda bangun, bukan pada apa yang Anda
musnahkan. Bagi mereka yang hendak menggenggam kekuasaan melalui korupsi
dan kekejian dan membungkam orang yang tidak setuju pada kebijakan mereka,
yakinlah bahwa kalian berada pada sisi yang keliru, tapi kami akan
mengulurkan tangan jika kalian tidak lagi mengepalkan tinju.

Bagi rakyat negara-negara miskin, kami berjanji akan bekerja bersama
kalian untuk membuat ladang kalian subur dan membuat air bersih mengalir,
untuk memberi makan tubuh yang kelaparan, dan memenuhi kebutuhan mental.
Dan kepada negara-negara seperti negara kita yang relatif menikmati
kemakmuran, kita tidak bisa lagi bersikap tidak peduli pada kesengsaraan
di luar perbatasan kita, dan kita tidak bisa menghabiskan sumber-sumber
dunia tanpa mempedulikan dampaknya. Karena dunia sudah berubah dan kita
harus berubah dengannya.

Sambil kita mempertimbangkan jalan yang terbentang di depan kita, kita
mengingat dengan rasa terima kasih orang-orang Amerika yang gagah berani,
yang pada saat ini, berpatroli di gurun dan gunung yang sangat jauh. Ada
sesuatu yang hendak mereka katakan pada kita hari ini, seperti yang
dibisikkan sepanjang masa oleh para pahlawan kita yang kini dimakamkan di
Arlington. Kita menghormati mereka bukan hanya karena mereka menjaga
kebebasan kita tetapi karena mereka menunjukkan arti pengorbanan,
kesediaan untuk mencari arti yang lebih besar dari diri mereka sendiri.
Dan pada saat ini, saat yang akan tercatat dalam sejarah generasi –
semangat inilah yang harus ada pada kita semua.

Sebanyak apapun yang bisa dan harus dilakukan pemerintah, pada akhirnya
kepercayaan dan tekad rakyat Amerika-lah yang diandalkan negara ini.
Misalnya kebaikan hati untuk menampung orang yang kena musibah walaupun
tidak kita kenal, atau pekerja yang tanpa pamrih rela mengurangi jam kerja
mereka daripada melihat seorang teman di-PHK, yang membuat kita keluar
dari kegelapan. Adalah keberanian para pemadam kebakaran untuk menerobos
masuk ke rumah yang penuh asap, dan juga kesediaan orang tua untuk
membesarkan anak, yang kelak akan menentukan nasib kita.

Tantangan kita mungkin baru. Alat-alat yang kita gunakan untuk
mengatasinya mungkin baru. Tetapi pada nilai-nilai itulah keberhasilan
kita bergantung – yaitu kerja keras dan kejujuran, ketabahan dan berlaku
secara adil, toleransi dan rasa ingin tahu, kesetiaan dan patriotisme –
semua itu sudah lama ada. Semua itu memang benar. Semua itu telah menjadi
kekuatan kemajuan sepanjang sejarah. Jadi yang dituntut sekarang adalah
kembalinya kepada nilai-nilai ini. Apa yang diperlukan dari kita sekarang
ini adalah era pertanggungjawaban yang baru – suatu pengakuan, dari tiap
orang Amerika, bahwa kita mempunyai kewajiban bagi diri kita sendiri, bagi
negara kita dan bagi dunia, kewajiban yang kita lakukan dengan senang
hati, bukan dengan bersungut-sungut, karena kita tahu tidak ada yang lebih
memuaskan bagi jiwa kita, yang merupakan definisi karakter kita, daripada
memberikan segalanya untuk menyelesaikan tugas yang sulit.

Inilah pengorbanan dan janji kewarganegaraan.

Inilah yang menjadi sumber keyakinan kita – pengetahuan bahwa Tuhan
meminta kita untuk memperbaiki keadaan yang tidak pasti.

Inilah arti kebebasan dan kepercayaan kita- mengapa laki-laki dan
perempuan dan anak-anak dari tiap ras dan tiap keyakinan bisa ikut dalam
perayaan di lapangan yang indah ini, dan mengapa seorang lelaki yang
ayahnya lebih 60 tahun lalu mungkin tidak dilayani di restoran, sekarang
bisa berdiri di depan anda untuk diambil sumpahnya sebagai presiden.

Jadi marilah kita hari ini mengenang siapa kita dan sejauh mana jalan yang
kita tempuh. Pada tahun kelahiran Amerika, pada bulan yang terdingin,
sekelompok patriot berkumpul di depan api unggun yang mulai padam di
bantaran sungai yang beku. Ibukota telah ditinggalkan, musuh terus maju,
salju tampak berlumuran darah. Pada saat itu, ketika nasib revolusi kita
sangat diragukan, bapak bangsa kita memerintahkan supaya kalimat berikut
dibacakan kepada semua rakyat Amerika:

“Beritahukanlah pada dunia masa depan, bahwa di tengah musim dingin, saat
apapun tiada kecuali harapan dan kebajikan – bahwa kota dan negara,
waspada akan bahaya bersama, akhirnya bersatu untuk menghadapinya.”

Amerika; Dalam menghadapi musuh bersama, dalam masa sulit kita ini, mari
kita ingat kata-kata emas itu. Dengan harapan dan kebajikan, mari kita
hadapi bersama sekali lagi sungai beku ini, dan bertahan dari badai apapun
yang akan tiba. Biarkan cucu-cucu kita berkata bahwa kita telah diuji dan
kita menolak untuk mengakhiri perjalanan ini, bahwa kita tidak mundur dan
mata kita terpaku ke ufuk fajar dan dengan berkat Tuhan, kita meneruskan
anugerah kebebasan dan mengantarkannya dengan selamat bagi generasi masa
depan.

sumber: antara.com

Iklan